Menu Tutup

Tragis! Siswa SMK Meninggal karena Sepatu Kekecilan, Tak Pernah Mengeluh dan Selalu Utamakan Keluarga

Samarinda — Mandala Rizky Syaputra (16), siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Samarinda, meninggal dunia setelah kakinya mengalami pembengkakan akibat memakai sepatu sekolah yang terlalu kecil. Kisah hidup remaja ini menyentuh banyak hati karena sikapnya yang rendah hati, pantang mengeluh, dan selalu mengutamakan keluarga meski hidup dalam keterbatasan.

Mandala tinggal di Jalan Tramidi RT 13, Kelurahan Sungai Pinang Luar, Kota Samarinda, bersama ibunya, Ratnasari, dan saudara-saudaranya. Ratnasari, seorang penjual jajanan keliling, bercerita dengan haru tentang anak keduanya yang telah tiada.

Sejak kecil, Mandala sudah yatim piatu. Ia tidak pernah menuntut apa pun dari ibunya. Ketika Ratnasari menawarkan untuk membeli sepatu atau baju baru, Mandala selalu menjawab dengan lembut, “Tidak usah, Bu. Lebih baik uangnya digunakan untuk kebutuhan rumah saja.”

Setiap hari, Mandala berjalan kaki menuju sekolah yang berjarak sekitar 10 menit. Ia tidak pernah mengeluh meski sepatu yang dikenakannya sudah kekecilan. Ratnasari mengaku sering merasa sedih melihat kondisi sepatu anaknya, tetapi Mandala selalu bersikap tabah.

Ia mengambil jurusan Pemasaran di SMK Negeri 4 Samarinda atas saran ibunya. Meskipun bukan pilihan hatinya, Mandala tidak pernah membantah. Bahkan, ia dengan inisiatif mengikuti program magang selama satu bulan penuh. Setelah magang, ia hanya mengatakan kakinya terasa pegal, tanpa keluhan lebih lanjut.

Kepedulian Mandala terhadap keluarga dan orang lain sangat besar. Saat keluarganya harus pindah rumah, ia menyarankan mencari tempat yang lebih dekat dengan sekolah. Bukan untuk kenyamanan dirinya, melainkan agar tidak merepotkan teman yang biasa menjemputnya.

“Dia juga memikirkan bensin temannya yang bolak-balik menjemput,” kenang Ratnasari.

Kini, kepergian Mandala meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarganya. Rumah kecil itu terasa sepi. Ratnasari sempat melanjutkan berjualan untuk membiayai tahlilan, tetapi kemudian berhenti sementara atas permintaan anak sulungnya yang kini mulai bekerja.

Meski menerima berbagai komentar dan pesan yang tidak menyenangkan, Ratnasari memilih untuk ikhlas. “Sudah kehendak Tuhan,” ujarnya pelan.

Kisah Mandala menjadi pengingat bagi kita semua bahwa dalam kesederhanaan dan keterbatasan sekalipun, sikap tanggung jawab, kerendahan hati, dan kasih sayang terhadap keluarga tetap dapat tumbuh dengan indah. Semoga kisah ini menginspirasi generasi muda untuk lebih menghargai perjuangan orang tua dan lebih peduli terhadap sesama.

Semoga almarhum Mandala Rizky Syaputra mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Mahakuasa. Amin.

Related Posts