Menu Tutup

Menteri Keuangan Serahkan Pengelolaan Rupiah ke Bank Indonesia di Tengah Pelemahan Kurs

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan tanggapan atas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menembus level Rp18.000. Menurut data Bloomberg, dolar AS menguat 77 poin atau 0,43 persen hingga mencapai Rp18.044.

Purbaya menegaskan bahwa pengelolaan stabilitas nilai tukar mata uang merupakan kewenangan Bank Indonesia (BI). Ketika ditanyakan apakah diperlukan rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyusul pelemahan rupiah tersebut, ia menyatakan belum melihat kondisi yang mengharuskan langkah tersebut.

“Nanti Anda akan melihat saya panik. Pada dasarnya, BI masih menjalankan tugasnya dengan baik dan segala sesuatu masih berada di bawah kendali mereka. Saya serahkan pengelolaan rupiah kepada mereka,” ujar Purbaya di Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Meskipun demikian, Purbaya mengakui bahwa pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri dalam mata uang rupiah. Pasalnya, meskipun kupon atau bunga utang dalam dolar AS tetap, jumlah rupiah yang dibutuhkan untuk membayarnya akan lebih besar ketika kurs melemah.

“Harusnya kuponnya tetap, tetapi jika pembayaran utang dilakukan melalui kupon, maka kuponnya konstan. Hanya saja, ketika rupiah melemah, pembayarannya dalam rupiah akan meningkat,” jelasnya.

Menurut Purbaya, kondisi tersebut masih berada dalam rentang simulasi yang telah diperhitungkan pemerintah sebelumnya. Oleh karena itu, ia memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak terganggu dan tetap aman.

Pada saat penyusunan APBN, pemerintah menggunakan asumsi kurs dolar AS sebesar Rp16.500. Namun, pemerintah juga melakukan berbagai simulasi terhadap kemungkinan perubahan kondisi ekonomi, termasuk pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi.

“Pada waktu penyusunan APBN pertama, asumsinya adalah Rp16.500. Tetapi kami terus melakukan simulasi ketika harga bahan bakar minyak naik tinggi. Kami sudah menghitungnya di situ. Penyesuaiannya cukup tinggi, tetapi saya tidak menyebutkan secara spesifik rupiah akan melemah signifikan. Namun, secara mendasar, fundamental rupiah berada di level yang lebih kuat daripada kondisi saat ini,” papar Purbaya.

Selain itu, pemerintah melakukan intervensi di pasar surat utang negara untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Intervensi tersebut mencapai lebih dari Rp8 triliun di pasar obligasi.

“Mungkin lebih dari Rp8 triliun di obligasi, tetapi ini yang boleh saya sampaikan. Tidak apa-apa, agar Anda tahu, saya melakukan intervensi sedikit. Sementara itu, yield obligasi tenor 10 tahun relatif stabil atau cenderung menurun. Jadi, ada dampaknya terhadap surat utang kita,” tutup Purbaya.

Related Posts