Jakarta – Penyebab tewasnya seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) beserta keluarganya di dalam tenda saat berkemah di Taman Wisata Alam Posong, Temanggung, Jawa Tengah, telah terungkap. Keempat korban meninggal dunia akibat paparan gas karbon monoksida (CO) yang berasal dari tungku briket atau arang yang dibakar di dalam tenda tertutup.
Korban terdiri atas Muhammad Ali Munawar (52 tahun), Maghfirah (43 tahun), Bagas Amar Hakiki (21 tahun), dan Alvino Evan Hakim (17 tahun). Mereka ditemukan tewas pada Rabu, 27 Mei 2026.
Kapolres Temanggung AKBP Zamrul Aini menjelaskan bahwa tungku tanah liat tersebut sebenarnya dimaksudkan sebagai penghangat tubuh. Namun, berdasarkan bukti foto di ponsel korban, tungku itu digunakan untuk membakar pisang.
“Tujuannya untuk penghangat. Namun dalam foto-foto korban, dalam handphone korban didapati korban menggunakan ini untuk membakar pisang. Kita tampilkan tadi, di atas tungku korban meletakkan pisang mungkin membuat pisang bakar,” ujar Zamrul dalam konferensi pers di Mapolda Jawa Tengah.
Tim Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah melakukan simulasi di lokasi kejadian. Hasil simulasi menunjukkan kadar karbon monoksida yang sangat berbahaya. Dalam waktu sekitar satu jam, kadar CO di dalam tenda mencapai sekitar 2.000 ppm, sementara di luar tenda dengan pintu terbuka mencapai lebih dari 200 ppm.
Kasubbid Kimbio Bid Labfor Polda Jateng AKBP Ibnu Sutarto menyatakan, “Dari situ kita juga yakin kalau sumber gas yang meracuni itu korban adalah dari arang yang untuk pembakarannya.”
Karbon monoksida adalah gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat beracun. Gas ini dapat menyebabkan keracunan hingga kematian karena mengikat hemoglobin dalam darah lebih kuat daripada oksigen, sehingga mengganggu pasokan oksigen ke seluruh tubuh.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi para pendaki dan wisatawan untuk tidak menggunakan alat pembakaran seperti arang atau briket di dalam tenda atau ruangan tertutup. Ventilasi yang baik sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya keracunan gas berbahaya serupa.